Tanggal : 15-10-2019


Salah satu kewajiban umat islam adalah melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu. Dikatakan mampu adalah apabila mampu secara fisik dan mental. Dalam Surat Al Baqarah ayat 97 di jelaskan bahwa mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu (Istithaah) mengadakan perjalanan ke Baitullah. Dengan demikian, istithaah menjadi hal penting dalam pelaksanaan ibadah haji.  Hal ini sudah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomer 15 Tahun 2016 Tentang Istithaah Kesehatan Jemaah Haji menyatakan bahwa seluruh jemaah haji harus dilakukan pemeriksaan dan pembinaan kesehatan agar tercapai kondisi istithaah kesehatan haji. Istithaah merupakan salah satu syarat ibadah haji yang harus dipenuhi oleh jemaah haji agar dapat melaksanakan rukun haji dan wajib haji.
Istithaah Kesehatan Jemaah Haji merupakan kemampuan Jemaah Haji dari aspek kesehatan yang meliputi fisik dan mental yang terukur dengan pemeriksaan. Beberapa hal yang baru pada Permenkes Nomor 15 Tahun 2016 Tentang Istithaah Kesehatan Jemaah Haji adalah pada pembagian kriteria penetapan Status Kesehatan Jemaah haji. Menurut dokter Chusni Spesialis Penyakit Dalam selaku narasumber pada kegiatan ini mengatakan,  “Jika calon jamaah haji sehat dan istithoah maka selama pelaksanaan rangkaian ibadah haji akan berjalan dengan lancar”, pada kesempatan yang sama juga disampaikan bahwa jamaah haji tahun 2019 pada umumnya sehat. Jika kasus jamaah dengan resiko tinggi dengan pendampingan orang harus diyakinkan bahwa pendampingnya adalah dari keluarga dekat sehingga dapat melayani jamaah yang didampingi dengan baik dapat melaksanakan ibadah dengan baik pula. Tidak usah memaksakan diri untuk beribadah sunah yang lainnya seperti umrah setiap hari 23 kali. Peran KBIH sangat dominan dari petugas kloter sehingga banyak jamaah yang memaksakan ikut kegiatan dari KBIH misalnya wisata rohani, itu yang akan membuat jamaah haji terutama lansia mengalami sakit, lanjutnya.
Evaluasi pelaksanaan ibadah haji tahun 2019 juga disampaikan oleh Kasie Pelayanan Haji dan Umrah Kementerian Agama Kabupaten Purworejo bahwa niat dalam menunaikan ibadah haji sangat penting, bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban apalagi kalau niatnya ingin meninggal di Arab saudi jelas bukan tujuan dari ibadah haji, namun harus diniatkan karena lillahi ta’alla karena Allah semata. Dalam kesempatan ini juga disampaikan bahwa ada Undang-undang No.8 tahun 2019 merupakan Pedoman terbaru dari Kementerian Agama yang harus dipedomani. Pembinaan dengan sistem zonasi merupakan salah satu dari inovasi pelayanan ibadah haji dari 11 inovasi yang ada. Peserta kegiatan adalah Dokter Pemeriksa Haji di Puskesmas     yang sudah dikuatkan dengan SK Bupati Purworejo mengenai Tim Pemeriksa Kesehatan Haji Kabupaten Purworejo.
    Diakhir pertemuan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo, dr. Sudarmi, MM menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh tim pemeriksa ibadah haji tahun 2019 bahwa semua jamaah haji dalam keadaan sehat. Pembinaan untuk tahun 2020 harus lebih rutin lagi dengan sistem yang baru sesuai dengan UU yang ada sehingga diharapkan calon jamaah haji lebih siap lagi dalam menunaikan ibadah haji dan menjadi haji yang mabrur dan mabruron, imbuhnya. Bagi dokter fungsional yang baru agar lebih menyesuaikan diri untuk menjadi tim pemeriksa haji. Besar harapan Kepala Dinas untuk dokter fungsional mendaftarkan menjadi petugas TKHI sehingga jamaah haji selama melaksanakan ibadah haji lebih di perhatikan atau diutamakan, demikian tandasnya saat menutup acara pertemuan. (Seksi P3KLB, 15 Oktober 2019)